Terkait Kebijakan Pemerintah Impor Beras, Bowo : Bukan Solusi, Dapat Merugikan Petani

  • Bagikan
Wasekjen DPP PKB Risharyudi Triwibowo. (Foto : IST)

LOCUSNEWS, JAKARTA – Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) DPP PKB Risharyudi Triwibowo, menekankan kebijakan pemerintah melalui Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) dalam impor beras akan sangat merugikan petani. Bahkan, akan berdampak negatif terhadap kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Peryataan itu disampaikan pria yang karib disapa Bowo Timumun menanggapi pernyataan Budi Waseso sebagai Kepala Perum Bulog, bahwa pemerintah akan mengimport beras sebanyak 500 ribu ton secara bertahap hingga Februari 2023.

“Dalam hal kebijakan beras pemerintah seperti masih berpihak pada mafia impor, karena belum lama negara kita ditangan Presiden Jokowi mendapat penghargaan swasembada beras, kok kini malah lakukan impor? bukannya melanjutkan swasembada tapi malah melorotkan penghargaan ke tempat sampah karena akan jadi olokan petani yang dirugikan,” ujar Bowo belum lama ini, melalui rilisnya di terima locusnews.id.

Bowo menegaskan, impor beras akan berdampak pada turunnya harga gabah di tingkat petani. Apalagi lanjut dia, import beras tahun 2022 dilaksanakan setelah swasembada beras tahun 2021. 

“Sama saja Kementerian Perdagangan (Kemendag) mau permalukan wajah pemerintah sendiri, bisa jadi akan ada pemikiran liar di masyarakat atau petani bahwa tahun lalu saat swasembada beras adalah pencitraan saja, dan tahun ini import beras adalah wajah kita yang sebenarnya sebenarnya,” ucapnya.

“Silahkan impor, tapi harus diimbangi dengan pemberian insentif yang bagus cepat dan kontinyu kepada petani, semisal ketersedian pupuk dengan harga murah dan pelayanan cepat,” sambung Putra asal Sulawasi Tengah ini.

Bowo Timumun menjelaskan, tanah Indonesia masih sangat luas, subur, lagi kosong untuk digarap. Saat ditanami akan menghasilkan produk berkualitas.

Ia kemudian mencontohkan, Sulawesi Tengah adalah salah satu daerah yang juga punya potensi sebagai food estate atau Rice Area Estate, air melalui sungai sangat melimpah, dataran luas dengan hamparan yang subur sangat bisa ditanami dan diolah.

Ia tekankan, impor beras boleh dilakukan sebagai solusi jangka pendek, untuk jangka panjangnya ialah dialakukan langkah olah serta maksimalkan lahan yang terhampar luas di neraga Indonesia.

“Masyarakat dan alam yang kita miliki secara bergotong royong untuk kemakmuran bangsa dan negara, swasembada adalah solusi terbaik dan Indonesia menuju mandiri pangan, atau bahkan sebagai bank padi dunia, nah ini baru keren dan berdikari,” pungkasnya.

Bambang

Bagikan Berita :
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *