LOCUSNEWS, PARIMO – Rencana penyediaan “gundukan durian” dalam rangka Festival Teluk Tomini (FTT) 2026 diduga dibebankan kepada aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parigi Moutong (Parimo).
Hal itu terungkap dari surat resmi yang ditandatangani Bupati Parimo tertanggal 13 April 2026, yang ditujukan kepada seluruh kepala organisasi perangkat daerah (OPD), badan, hingga kepala bagian.
Dalam surat tersebut, pimpinan OPD diminta memberikan dukungan terhadap pelaksanaan FTT 2026 yang dirangkaikan dengan Bhayangkara Trail Adventure (BTA), yang dijadwalkan berlangsung pada 24–25 April 2026 di Pantai Kayu Bura.
Dukungan yang dimaksud secara spesifik berupa penyiapan buah durian sesuai arahan yang telah ditentukan.
“Disampaikan kepada Bapak/Ibu pimpinan OPD untuk memberi dukungan berupa penyiapan buah durian sesuai arahan yang ditentukan,” demikian kutipan isi surat tersebut.
Beredar informasi buntut dari surat tersebut setiap ASN dilingkup OPD terpaksa merogoh kantong pribadi untuk membeli durian. Jika benar, maka ribuan buah durian bakal tekumpul.
Menanggapi itu, Kadis Disporapar Parimo Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Parimo, Enang Pandake, membantah adanya kewajiban bagi aparatur sipil negara (ASN) untuk menyumbang durian dalam kegiatan “gundukan durian” pada FTT 2026.
Menurutnya, dukungan yang diminta pemerintah daerah kepada organisasi OPD bersifat partisipatif, bukan kewajiban apalagi penekanan kepada ASN secara individu.
“Tidak ada penekanan seperti yang berkembang, misalnya satu ASN satu durian. Itu tidak benar. Dalam surat yang kami keluarkan hanya bersifat partisipasi,” tegas Enang.
Ia menjelaskan, kontribusi yang diberikan sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing pimpinan OPD, tanpa ada target jumlah tertentu yang harus dipenuhi.
“Berapapun yang diberikan, itu kami terima. Mau 10, mau 20, silakan. Tidak ada kewajiban atau paksaan,” ujarnya.
Enang mengakui, isu mengenai adanya beban per ASN kemungkinan muncul dari dinamika pembahasan awal dalam rapat internal. Namun, ia menegaskan hal tersebut tidak pernah menjadi kebijakan resmi.
“Memang sempat berkembang dalam pembahasan awal, tapi itu bukan keputusan. Secara resmi tidak ada penekanan kepada ASN,” katanya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa konsep “gundukan durian” dalam FTT bertujuan memeriahkan acara sekaligus mengangkat potensi durian lokal dari masing-masing wilayah di Parimo.
Durian yang dikumpulkan, kata dia, nantinya akan dibagikan kepada masyarakat dan tamu yang hadir, bukan untuk kepentingan tertentu.
“Ini untuk konsumsi bersama, tamu undangan dan masyarakat. Jadi tidak seperti kesan yang berkembang,” jelasnya.
Selain OPD, pihaknya juga melibatkan kecamatan sebagai peserta gundukan durian. Hingga saat ini, sudah ada delapan kecamatan yang menyatakan kesiapan berpartisipasi.
Enang menambahkan, tidak ada target jumlah durian dalam setiap gundukan. Komposisi yang dianjurkan hanya sekitar 70 persen durian dan 30 persen buah lokal lainnya.
“Tidak ada target ketinggian atau jumlah. Tergantung kemampuan masing-masing kecamatan atau OPD,” pungkasnya.
