9.100 Titik Api Terdeteksi di Sulteng, Dishut Minta 13 KPH Gencarkan Cegah Karhutla

Karhutla terjadi pada Selasa (1/9/2026) sekitar pukul 14.00 WITA, di kawasan Desa Sausu Auma, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parimo. (Foto : BPBD Parimo)

LOCUSNEWS, PALU – Dinas Kehutanan (Dishut) Sulawesi Tengah (Sulteng) meningkatkan langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebanyak 13 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) diminta memasifkan edukasi kepada masyarakat menyusul ribuan titik panas yang terpantau di wilayah Sulteng.

Kepala Dishut Sulteng Susanto Wibowo mengatakan seluruh sumber daya manusia (SDM) di instansinya dikerahkan untuk melakukan pencegahan bersama berbagai pihak.

“Kami mengerahkan semua sumber daya manusia di Dinas Kehutanan melakukan langkah-langkah pencegahan bersama para pihak,” kata Susanto di Palu, Selasa (1/9/2026).

Susanto menyebut berdasarkan data Dishut Sulteng, sekitar 3.138 hektare kawasan hutan (KH) dan areal penggunaan lain (APL) telah terdampak karhutla.

Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya aktivitas titik panas. Hingga saat ini, sekitar 9.100 hotspot terpantau di Sulteng melalui aplikasi Sipongi milik Kementerian Kehutanan.

Menurut Susanto, tingginya jumlah titik panas menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas. Karena itu, pencegahan tidak hanya mengandalkan pemadaman saat api sudah muncul.

“Di tingkat KPH kami telah membentuk kelompok sukarelawan yang dilatih dan diberdayakan untuk membantu pencegahan maupun penanggulangan karhutla,” ujarnya.

Ia mengatakan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Warga diminta tidak menggunakan api saat membuka lahan karena berisiko memicu kebakaran, terutama dalam kondisi cuaca panas dan kering.

“Kami meminta warga saat membuka lahan tidak dengan cara membakar karena sangat berpotensi menimbulkan kebakaran,” katanya.

Dalam penanganan karhutla, Dishut Sulteng juga terlibat dalam dua satuan tugas (satgas), yakni satgas di daerah di bawah kendali BPBD serta satgas Kementerian Kehutanan yang dikoordinasikan Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) sebagai koordinator wilayah.

Sementara itu, Gubernur Sulteng Anwar Hafid meminta pencegahan karhutla dilakukan secara serentak hingga tingkat desa.

Instruksi tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan karhutla yang dipimpin Anwar pada Senin (31/8/2026). Para bupati dan wali kota diminta menggerakkan kepala desa untuk ikut memberikan edukasi kepada masyarakat.

Anwar menilai kepala desa memiliki posisi strategis karena menjadi ujung tombak pemerintah dalam menyampaikan informasi langsung kepada warga.

“Kalau serentak seluruh desa, sekitar 2.000 desa di Sulawesi Tengah satu hari melakukan sosialisasi, apakah itu melalui tokoh-tokoh masyarakat di desa atau berkumpul di balai desa, sehingga upaya ini benar-benar masif,” kata Anwar.

Berdasarkan data BPBD Sulteng per 28 Agustus 2026, tercatat 87 kejadian karhutla dan 15 kejadian kekeringan di sejumlah wilayah Sulteng.

Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan dinilai menjadi semakin penting, terutama untuk menekan munculnya titik api baru dan mencegah kebakaran meluas ke kawasan hutan maupun lahan milik masyarakat.

Exit mobile version