LOCUSNEWS, PARIMO – Warga yang terdampak kekeringan di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, kembali mendapat pasokan air bersih. Sebanyak 8.000 liter air didistribusikan ke Dusun V, Desa Bolano Barat, Kecamatan Bolano.
Distribusi air bersih tersebut dilakukan Posko Penanganan Darurat Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutlah) Kecamatan Bolano pada Sabtu (5/9/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Parimo Moh Rivai mengatakan penyaluran air bersih menjadi bagian dari penanganan dampak kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Parimo.
“Kondisi kekeringan menyebabkan sejumlah wilayah mengalami penurunan sumber air dan krisis air bersih,” kata Rivai.
Menurutnya, BPBD terus melakukan pemantauan sekaligus menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah yang membutuhkan. Sebelumnya, BPBD juga telah memasok air bersih untuk warga terdampak kekeringan di sejumlah desa di Parimo.
Untuk distribusi di Desa Bolano Barat, total air yang disalurkan mencapai 8.000 liter.
Rivai mengatakan penanganan kekeringan dilakukan bersamaan dengan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi kering membuat potensi kebakaran perlu diantisipasi.
“Jangan membuka lahan dengan cara membakar karena sangat rentan memicu karhutla,” ujarnya dalam imbauan sebelumnya.
Berdasarkan laporan Posko Penanganan Darurat Kekeringan dan Karhutlah Kecamatan Bolano, tidak ada kejadian karhutla pada Sabtu (5/9).
Tidak ada pula lahan perkebunan maupun kawasan hutan yang tercatat terdampak kebakaran pada hari tersebut.
Meski demikian, petugas tetap disiagakan di posko.
Sejumlah peralatan pemadaman seperti dua unit alkon beserta selang, dua jet shooter, dua pemukul api, serta tiga tandon air disiapkan untuk menghadapi kondisi darurat.
Empat personel juga bersiaga di Posko Kecamatan Bolano, yakni Moh Akbar, Muh Andi Riski, Mardiyanto dan Riyan Iskandar.
Penyaluran 8.000 liter air tersebut menjadi salah satu upaya memenuhi kebutuhan dasar warga di tengah musim kering yang masih melanda sejumlah wilayah Parimo.
Sebelumnya, BPBD mencatat kekeringan telah berdampak pada sejumlah desa di Parimo, bahkan ikut mengancam sektor pertanian akibat berkurangnya ketersediaan air.
