Ragam, Sigi  

Yayasan Sikola Mombine Gandeng PKK, Perkuat Pembangunan Inklusif di Sigi

Yayasan Sikola Mombine berkolaborasi dengan Tim Penggerak PKK melalui Program PAKAGASI menggelar regular meeting di Best Western Hotel Palu, Kamis. (Foto : Ist)

LOCUSNEWS, SIGI – Yayasan Sikola Mombine berkolaborasi dengan Tim Penggerak PKK melalui Program PAKAGASI untuk memperkuat pembangunan inklusif di Kabupaten Sigi. Kolaborasi ini diperkuat dalam regular meeting yang digelar di Best Western Hotel Palu, Kamis (5/2/2026).

Pertemuan tersebut melibatkan TP PKK tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa sebagai upaya menyatukan program dan memperluas dampak pembangunan yang ramah perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan.

Program PAKAGASI sendiri merupakan kemitraan Yayasan Sikola Mombine dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Arbeiter-Samariter-Bund South East Asia (ASB-SEA), serta didukung oleh BMZ, Kementerian Kerja Sama Jerman.

Kegiatan ini diikuti PKK Kabupaten Sigi, PKK Kecamatan Dolo Selatan, Sigi Biromaru, dan Gumbasa, serta PKK dari 11 desa, antara lain Desa Lolu, Jonooge, Mpanau, Pombewe, Rogo, Bulubete, Bangga, Pakuli Utara, Simoro, dan Omu.

Salah satu peserta Program PAKAGASI dari Desa Lolu, Nelly Agustina, menyampaikan dampak nyata program tersebut bagi perempuan desa. Ia mengaku para ibu kini lebih memahami pengelolaan keuangan keluarga melalui Balai Belajar Kampung (BBK).

“Melalui Kalender Usaha, kami jadi paham mencatat keuangan, pentingnya menabung, sampai menyiapkan dana darurat,” ujar Nelly.

Ia juga menyebut Program PAKAGASI mendorong terbentuknya koperasi inklusif di tiga kecamatan di Kabupaten Sigi. Koperasi tersebut memberikan manfaat ekonomi bagi perempuan dan penyandang disabilitas melalui pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU).

“Koperasi ini berjalan dengan prinsip inklusivitas, aksesibilitas, dan partisipasi. Dampaknya sangat terasa bagi masyarakat desa,” katanya.

Sementara itu, Program Officer PAKAGASI, Novi Onora, M.Si., memaparkan hingga saat ini sebanyak 2.071 perempuan dan penyandang disabilitas telah terlibat dalam Kelas Balai Belajar Kampung di 10 desa pada tiga kecamatan.

“Kelas BBK membahas berbagai isu, mulai dari manajemen bisnis, kepemimpinan perempuan, literasi keuangan keluarga, kewirausahaan, hingga pengurangan risiko bencana berbasis inklusi dan adaptasi perubahan iklim,” jelas Novi.

Menurutnya, Balai Belajar Kampung menjadi ruang edukasi inklusif yang terbuka bagi perempuan, penyandang disabilitas, kelompok rentan, serta laki-laki yang ingin terlibat aktif dalam pembangunan desa.

Ketua TP PKK Kabupaten Sigi, Halwiah, menegaskan bahwa tantangan di desa masih berkisar pada ketimpangan gender, kerentanan penyandang disabilitas, dan ekonomi keluarga. Ia menilai sinergi PKK dan PAKAGASI sangat strategis.

“Tujuan kita sejalan. Kolaborasi ini penting agar dampaknya lebih luas dan berkelanjutan,” ujar Halwiah.

Di akhir kegiatan, Tim PAKAGASI dan PKK menyusun rencana tindak lanjut secara partisipatif sebagai langkah konkret memperkuat kolaborasi lintas pihak dari tingkat kabupaten hingga desa.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya visi PKK, yakni keluarga berdaya dan sejahtera, sejalan dengan Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.

Penulis: WardyEditor: Bambang
Exit mobile version