LOCUSNEWS, PARIMO – Penurunan harga Bahan Bakar Khusus (BBK) mulai mengubah pola konsumsi bahan bakar masyarakat di Parigi. Selisih harga yang kian menipis antara BBM subsidi dan non-subsidi membuat konsumen beralih ke Pertamax untuk menghindari antrean panjang di jalur Pertalite.
Manager SPBU Kampal, Rivai Muhammad, mengatakan fenomena tersebut terlihat jelas sejak harga BBK disesuaikan. Menurutnya, masyarakat kini lebih mempertimbangkan efisiensi waktu dan kualitas bahan bakar dibanding sekadar harga murah.
“Kalau perbedaannya tidak jauh, konsumen memilih Pertamax supaya tidak perlu antre lama. Ini soal efisiensi dan kenyamanan,” ujar Rivai.
Dampak dari kebijakan tersebut terlihat pada lonjakan penjualan Pertamax di SPBU Kampal. Saat ini, konsumsi Pertamax tercatat menembus lebih dari 1,5 ton per hari atau naik sekitar 500 liter dibandingkan sebelum penurunan harga. Kondisi ini juga berimbas pada berkurangnya kepadatan antrean di jalur BBM subsidi.
Adapun harga BBK terbaru yang berlaku saat ini yakni Pertamax Rp12.650 per liter dan Pertamina Dex Rp13.900 per liter, turun dari harga sebelumnya Rp15.300 per liter. Sementara Pertalite dan Solar masih bertahan pada harga subsidi lama karena tidak masuk dalam kebijakan penyesuaian.
Di sisi lain, Rivai memastikan pasokan BBK di SPBU Kampal tetap aman. Distribusi dilakukan melalui sistem tebus-angkut yang menyesuaikan permintaan pasar, dengan satu tangki BBK berkapasitas 8 ton rata-rata habis terserap dalam waktu satu minggu.
Namun, tantangan justru terjadi pada layanan Solar. SPBU Kampal saat ini menjadi satu-satunya SPBU di dalam Kota Parigi yang melayani Solar akibat masih berlakunya sanksi skorsing terhadap SPBU Pombalowo.
Kondisi tersebut membuat beban pelayanan meningkat, terutama bagi kendaraan logistik dan transportasi umum.
“Kami tetap berupaya menjaga layanan agar kebutuhan masyarakat, khususnya pengguna Solar, tetap terpenuhi,” pungkasnya.












