Ragam  

Ekspor Sulteng Tembus US$ 22,31 Miliar, KADIN Parimo Bidik Pantoloan Jadi Pintu Utama

Ketua KADIN Parimo, Faradiba Zaenong. (Foto : Istimewa)

LOCUSNEWS, PARIMO – Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Faradiba Zaenong, mendorong Sulawesi Tengah merebut lebih banyak aktivitas ekonomi ekspor yang selama ini masih berlangsung melalui pelabuhan di provinsi lain.

Pelabuhan Pantoloan di Palu dinilai bisa menjadi pintu utama untuk memperkuat rantai perdagangan komoditas daerah.

Faradiba menilai, besarnya nilai ekspor Sulawesi Tengah belum cukup jika aktivitas pendukung perdagangan, mulai dari pergudangan, transportasi hingga jasa logistik, belum sepenuhnya berkembang di daerah sendiri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Sulawesi Tengah sepanjang 2025 mencapai US$ 22,31 miliar. Sementara itu, selama Januari-November 2025, ekspor tercatat sebesar US$ 19,976 miliar.

Dari jumlah tersebut, ekspor senilai US$ 19,238 miliar dikirim melalui pelabuhan di Sulawesi Tengah. Adapun US$ 738,18 juta lainnya tercatat dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain.

Menurut Faradiba, angka tersebut bukan berarti seluruh nilai ekspor yang melalui provinsi lain menjadi pendapatan asli daerah (PAD) yang hilang. Namun, kondisi itu perlu ditelaah untuk mengetahui peluang ekonomi yang masih bisa ditarik ke Sulawesi Tengah.

“Ini bukan soal mengatakan PAD kita hilang. Yang perlu kita lihat adalah aktivitas ekonomi apa saja yang berada di balik angka US$ 738,18 juta itu, berapa sebenarnya komoditas Sulawesi Tengah yang bisa kita tarik melalui Pantoloan?” kata Faradiba.

Dia mengusulkan agar pemerintah daerah bersama pelaku usaha menyusun strategi untuk mengidentifikasi komoditas, jalur pengiriman, pelaku usaha, serta kebutuhan infrastruktur yang dapat mendukung peningkatan aktivitas ekspor melalui Pantoloan.

Faradiba menilai, target awal tidak harus langsung besar. Upaya menarik sebagian aktivitas ekspor tersebut bisa dimulai secara bertahap, termasuk dengan membidik 10 persen dari nilai ekspor yang tercatat melalui pelabuhan di provinsi lain.

Menurutnya, langkah tersebut perlu didukung kajian komoditas dan perhitungan nilai ekonomi yang jelas agar target yang ditetapkan realistis serta dapat ditindaklanjuti.

“Komoditasnya dari Sulteng, maka ekosistem ekspornya juga harus tumbuh di Sulteng. Pantoloan harus menjadi salah satu pintu utamanya,” ujarnya.

Faradiba menegaskan, pengembangan Pelabuhan Pantoloan seharusnya tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik. Pelabuhan juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi perdagangan dan penguatan logistik daerah.

Jika aktivitas ekspor semakin berkembang di Sulawesi Tengah, peluang investasi pada sektor pendukung juga dinilai akan terbuka. Di antaranya pembangunan gudang, fasilitas penyimpanan berpendingin atau cold storage, depo kontainer, jasa angkutan, pengemasan, perusahaan ekspedisi, hingga industri pengolahan.

Kehadiran berbagai fasilitas tersebut berpotensi memperluas kesempatan usaha dan menciptakan lapangan kerja, sekaligus memperkuat keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai perdagangan komoditas.

“Kita harus menciptakan ekosistem yang membuat perusahaan swasta melihat Sulawesi Tengah sebagai lokasi yang rasional untuk membangun gudang, pusat logistik dan fasilitas pendukung ekspor. Jangan hanya komoditasnya yang keluar dari Sulteng, tetapi nilai ekonominya juga harus semakin banyak tinggal di Sulteng,” tegasnya.

Faradiba berharap pemerintah dan dunia usaha dapat membangun koordinasi untuk memetakan peluang tersebut. Dengan begitu, Sulawesi Tengah tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil komoditas, tetapi juga mampu mengambil peran lebih besar dalam layanan logistik dan perdagangan ekspor.

Penulis: BambangEditor: Bambang