Wasekjen PKB Angkat Bicara Soal Ricuh Aksi Demo Tolak Tambang

  • Bagikan
Wasekjen Dewan DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Risharyudi Triwibowo. (Foto : IST)

LOCUSNEWS,SULTENG – Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Risharyudi Triwibowo, menyayangkan peristiwa ricuhnya aksi blokade jalan Trans Sulawesi, Desa Katulistiwa oleh Aliansi Tani Rakyat (ARTI) Koalisi Tolak Tambang (KTT) PT Trio Kencana, sehingga ia meminta kasus yang menimbulkan korban itu ditangani serius dan diutus tuntas

“Kita berduka atas peristiwa ini. Saya minta pihak kepolisian usut tuntas ini, yang bersalah wajib dikenai sanksi, juga sangat berharap semua pihak bisa dinginkan kepala, hati dan kedepankan dialog,” ujarn Bowo sapaan akrabnya, Minggu, 13 Februari 2022.

Ia mengatakan, terhadap aktivitas tambang yang berujung demo, masyarakat pasti punya keinginan dan perusahaan pun pasti punya kemauan.

Olehnya, ia menyarankan dilakukan dialog melibatkan semua yang kepentingan sehingga semua alasan bisa disampaikan untuk mencari titik kesepakatan.

“Pihak kepolisian bisa memfasilitasi atau mediasi pertemuan kedua belah pihak, begitupun pemerintah daerah atau pemerintah kecamatan dan desa,” ucapnya.

“Kericuhan yang terjadi harus segera diakhiri, semua pihak sebaiknya bisa tenang, menahan diri dan sama-sama buka hati serta ruang dialog,” sambungnya.

Menurut dia, investasi untuk daerah sangat penting, mengakomodir permintaan masyarakat setempat juga penting, pelestarian alam pun wajib diutamakan. Begitu pula penambahan PAD bagi daerah dan PADes bagi desa.

“Saya rasa semua pihak bisa cari win win solution atau semua dapat hasil baik dengan cara damai,” urainya.

Diketahui aksi unjuk rasa warga Kecamatan Tinombo selatan Kabupaten Parigi Moutong yang menolak keberadaan Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik PT. Trio Kencana di Kasimbar berakhir ricuh.

Masyarakat yang berunjuk rasa terlibat bentrokan dengan aparat kepolisian, warga sempat memblokade jalan di Desa Siney, Kecamatan Tinombo Selatan, Sulawesi Tengah, Sabtu (12/2/2022)

Aparat kepolisian bubarkan masyarakat pengunjukrasa dengan gunakan water canon, gas air mata dan flash ball, terus merangsek mengurai kerumunan warga. Sementara ratusan warga yang sejak sabtu siang berunjukrasa terus berusaha melawan aparat dengan lemparan batu. Aksi masih berlangsung hingga Sabtu pukul 22.00 WITA.

Bambang

Bagikan Berita :
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *