UIN Palu Tingkatkan Kapasitas Perempuan di Parimo Sebagai Agen Perdamaian

  • Bagikan
UIN Datokarama Palu, meningkatkan kapasitas perempuan di Kabupaten Parimo sebagai agen perdamaian melalui pendekatan moderasi beragama. (Foto : HW)

LOCUSNEWS, PARIMO – Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Sulawesi Tengah, meningkatkan kapasitas perempuan di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) sebagai agen perdamaian di daerah itu melalui pendekatan moderasi beragama.

“Ibu – ibu atau kaum perempuan adalah satu kekuatan besar dalam pembangunan termasuk pembangunan perdamaian daerah,” ucap Rektor UIN Palu, Prof Sagaf S Pettalongi, di Palu, Senin, 12 September 2022.

Kata dia, UIN Palu melalui Pusat Study Gender dan Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LP2M) mengenalkan moderasi beragama kepada 110 perempuan di Kecamatan Tinombo dan Kecamatan Sausu, Kabupaten Parimo lewat kegiatan pengabdian masyarakat tentang pengembangan potensi daerah berbasis moderasi beragama dan gender.

“Kegiatan tersebut difokuskan di Desa Silabia untuk Kecamatan Tinombo, dan Desa Sausu Trans untuk Kecamatan Sausu,” ucapnya.

Prof Sagaf yang merupakan Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Sulteng, mengatakan perempuan atau ibu rumah tangga memiliki peran penting dalam merawat kerukunan dan perdamaian.

Sebab, dapat memainkan peran dalam rumah tangga dengan melakukan pembinaan yang baik kepada anggota keluarga serta kepada masyarakat dalam kehidupan sosial di lingkup rukun tetangga.

Hal ini penting, karena rumah tangga dan keluarga menjadi satu komponen yang rentan terpapar faham intoleransi, radikalisme dan terorisme. Olehnya, pendekatan moderasi beragama dalam pembinaan rumah tangga dan keluarga menjadi hal penting.

Sehingga rumah tangga dan keluarga menjadi satu komponen sosial yang perlu dikuatkan untuk optimalisasi peningkatan kualitas perdamaian dengan pendekatan moderasi beragama.

“Olehnya kaum perempuan dan ibu rumah tangga harus dapat menerima perbedaan yang ada, dan jangan mempersoalkan perbedaan yang ada di muka bumi,” ungkapnya.

Prof Sagaf menguraikan, terdapat empat ciri yaitu memiliki komitmen kebangsaan yang kuat, yang ditandai dengan menjunjung tinggi nilai-niai Pancasila dan UUD 1945.

Kemudian, menolak atau anti-kekerasan baik dalam bentuk fisik atau non-fisik. Berikutnya, bersikap toleran yaitu menghormati perbedaan yang ada dan memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada penganut agama lain untuk menjalankan perintah agamanya.

Selanjutnya, menerima dan menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dan budaya yang dianut oleh masyarakat.

“Maka penguatan rumah tangga dan keluarga harus berorientasi pada pembangunan empat ciri tersebut,” ujarnya.

Ia mengatakan, dengan terbangunnya rumah tangga dan keluarga yang moderat, maka intoleransi, radikalisme dan terorisme dapat dibendung secara optimal.

“Karena rumah tangga dan keluarga, orang tua, memiliki peran yang sangat strategis dalam membina generasi muda,”sebutnya.

Lanjut dia, orang tua dengan pemahaman moderasi beragama yang kuat akan melindungi anak-anaknya agar tidak terkontaminasi dan mengakses informasi-informasi yang bernuansa intoleransi, radikalisme dan terorisme.

HW

Bagikan Berita :
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *