Keluarga Bayi 8 Bulan Penderita Hirschsprung Butuh Uluran Tangan Dari Para Dermawan

  • Bagikan
Kedua orang tua Khaulah Senja Nafisah bayi 8 penderita Hirschsprung. (Foto : Opy)

LOCUSNEWS, PARIMO – Keluarga bayi penderita Hirschsprung (HIRSH-sproongz)  membutuhkan uluran tangan dari para dermawan untuk biaya berobat lanjutan ke Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Adalah Khaulah Senja Nafisah bayi 8 tahun asal Desa Silanga, Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong, menderita penyakit Hirschsprung dimana suatu kondisi yang mempengaruhi usus besar (kolon), dan menyebabkan masalah buang air besar. 

Ditemui awak media, Moh Rifdal dan Yuliani orang tua Khaulah Senja Nafisah mengaku hanya bekerja sebagai tenaga honorer sehingga tak mampu membiayai operasi lanjutan di Makassar atas penyakit Hirschsprung yang diderita anaknya. 

Kondisi tersebut memaksa keluarga untuk meminta waktu ke pihak RSUD Undata Palu, untuk menunda surat rujukan. 

Sebab, untuk menutupi kebutuhan harian bayi Khaulah Senja Nafisah saja, mereka kerap kesulitan. Tak jarang, kantong medis penampung kotoran, diganti dengan plastik pembungkus es.

“Saya guru honorer di SMK Khatulistiwa, dan istri saya, di Kelurahan Bantaya. Kami sedikit kewalahan soal biaya,” kata Moh Rifdal.

Moh Rifdal mengaku telah berupaya mencari bantuan ke sejumlah komunitas pencinta alam dan Yayasan Rumah Dua Jari di Palu, namun belum membuahkan hasil.

Sehingga, ia berharap, mendapatkan bantuan dari pihak darmawan maupun yayasan peduli kemanusiaan, agar anaknya segera menjalani operasi lanjutan. 

“Siapa saja yang ingin membantu anak saya, dapat menyalurkan ke rekening Bank Sulteng 1020204091970, atas nama Yulia A, nomor telpon 0822-9341-0640,” ucapnya.

Cerita Kedua Orang Tua Khaulah Senja Nafisah

Moh Rifdal mengaku, baru menyadari anaknya menderita penyakit Hirschsprung, setelah mendapatkan penanganan medis.

Awalnya, ketika dibawa pulang ke rumah setelah proses persalinan, bayi Senja panggilan kesayangan Khaulah Senja Nafisah, tak bisa buang air besar sehingga membuat perut anaknya membasar, dan terus menangis semalaman. 

Karena kondisi tersebut, ia bergegas membawa bayi Senja kembali ke Puskesmas Siniu, bermodalkan BPJS Kesehatan bantuan pemerintah ampai pada akhirnyabdirujuk ke Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Defina, di Desa Bambalemo, Kecamatan Parigi.

“Di RSIA Defina, anak saya hanya diobservasi semalaman. Kemudian, dirujuk lagi ke RSUD Anuntaloko Parigi,” ujarnya. 

Ia menjelaskan, menjalani perawatan medis di ruang NICU RSUD Anuntaloko Parigi, kondisi bayi Senja tetap sama, tak menunjukan perubahan. Bahkan, kata dia, dari pusar anaknya mengeluarkan belatung. Hal ini, menambah kekhawatirannya hingga mengeluarkan bayi Senja secara paksa dari rumah sakit.

“Saya membawa pulang anak saya secara paksa. Karena, melihat video dari salah seorang perawat di Nicu, ada belatung keluar dari pusatnya,” ungkapnya. 

Namun, seminggu setelah keluar dari rumah sakit, kondisi perut anaknya semakin membesar.  Karena kondisi itu, ia kembali membawa anaknya ke RSUD Anuntaloko Parigi. Kali ini, mereka meminta bayi Senja untuk segera dirujuk ke RSUD Undata Palu.

“Surat rujukan kami tunggu sekitar satu minggu baru keluar dari pihak RSUD Anuntaloko Parigi,” imbuhnya. 

Setibanya di RSUD Undata Palu, bayi Senja langsung menjalani operasi. Saat itu, lanjut Moh Rifdal, tenaga medis sempat memarahinya karena terlambat membawa anaknya untuk mendapatkan penanangan. 

“Saya bilang, jangan salahkan saya, karena yang lama itu dari rumah sakit asal di Parigi,” ujarnya.

Pasangan Moh Rifdal dan Yuliani tetap ikhlas melalui berbagai proses penanganan medis, agar bayi Senja segera sembuh. 

Setelah operasi, bayi Senja harus rawat jalan secara rutin. Setiap bulan, Moh Rifdal dan Yuliani membawanya ke RSUD Undata Palu dari kampung halaman, di Desa Silanga. 

Sementara itu, Yuliani menceritakan, penyakit yang diderita anaknya muncul sejak lahir atau bawaan akibat hilangnya sel saraf pada otot usus besar.

Ia mengaku, tak menduga anaknya menderita penyakit langkah tersebut. Sebab, bayi Senja yang lahir di Puskesmas Siniu pada 14 Oktober 2023 ini terlihat sehat saat dengan berat badan 3 kilogram.

“Senja lahir sehat, tapi memang lebih cepat dari prediksi dokter, yang memperkirakan proses persalinan pada 5 November 2023,” kata Yuliani. 

Bagikan Berita :
Penulis: BambangEditor: Bambang
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *