Pertalite Eceran di Parimo Tembus Rp27 Ribu, Pemkab Ancam Sanksi

Ketua Satgas Pengawasan dan Penertiban BBM Pemkab Parimo, Ismet Ibrahim. (Foto : Istimewa)

LOCUSNEWS, PARIMO – Harga Pertalite eceran di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, melonjak hingga Rp27 ribu per botol di tengah kesulitan mendapatkan BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). 

Pemerintah daerah mengingatkan pedagang agar tidak memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan berlebihan.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan dan Penertiban BBM Pemkab Parimo, Ismet Ibrahim, mengatakan temuan itu diperoleh saat inspeksi lapangan menyusul keluhan masyarakat yang ramai beredar di media sosial.

“Dari hasil inspeksi, Pertalite eceran ukuran 1,5 liter dijual Rp25 ribu hingga Rp27 ribu per botol. Sebelumnya, harganya sekitar Rp20 ribu,” kata Ismet di Parigi, Rabu.

Sementara itu, Pertalite eceran takaran satu liter dijual Rp15 ribu per botol, naik dari harga sebelumnya Rp13 ribu.

Ismet menegaskan, penjualan BBM bersubsidi secara eceran pada dasarnya tidak diperbolehkan. Namun, pemerintah memberikan kelonggaran dengan catatan pedagang tidak menjualnya dengan harga tinggi.

Jika praktik tersebut masih ditemukan, pemerintah akan menjatuhkan sanksi dan berkoordinasi dengan kepolisian untuk penanganan sesuai ketentuan hukum.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menimbun BBM bersubsidi di tengah kesulitan distribusi yang telah berlangsung sekitar tiga hari terakhir.

“Menimbun BBM bersubsidi merupakan tindakan melanggar hukum dan dapat dikenai sanksi pidana,” ujar Ismet, yang juga menjabat Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Parimo.

Di sisi lain, manajemen SPBU Kelurahan Kampal, Zulkifli, mengungkapkan penyaluran harian Pertalite bersubsidi di SPBU tersebut rata-rata mencapai 24 kiloliter (KL), sedangkan Biosolar sekitar 16 KL.

Menurut dia, antrean kendaraan ikut dipengaruhi tidak tersedianya Pertamax karena mesin pompa dispenser mengalami gangguan. Akibatnya, kendaraan terkonsentrasi di pengisian BBM bersubsidi.

Pihak SPBU, kata Zulkifli, telah mengajukan penambahan kuota harian produk bersubsidi kepada Pertamina untuk membantu mengurai antrean.

“Kami berharap Pertamina bisa merealisasikan pengajuan penambahan kuota tersebut,” katanya.

Hingga berita ini ditulis, Pertamina belum memberikan tanggapan atas konfirmasi mengenai kesulitan BBM bersubsidi di Parimo yang disampaikan sejak Selasa (20/10/2026).