LOCUSNEWS, PARIMO – Kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi perhatian di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah. Hingga 22 September 2026, sekitar 96 ribu liter air bersih telah disalurkan ke sejumlah desa terdampak.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Tim Teknis merekomendasikan perpanjangan status Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla di Parimo.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Parimo, Rivai, mengatakan hasil evaluasi menunjukkan kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah masih ada, terutama di kawasan utara Parimo.
“Evaluasi penanganan terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak tetap terpenuhi, termasuk distribusi air bersih dan kesiapsiagaan personel serta peralatan,” kata Rivai, pada raoat evaluasi pelaksanaan siaga darurat bencana Karhutla dan kekeringan di kantor BPBD Parimo, Rabu (23/9/2026).
Berdasarkan data BPBD hingga 22 September, kekeringan telah berdampak terhadap sekitar 2.348 hektare lahan pertanian dan perkebunan. Dampak terluas tercatat di Kecamatan Bolano, Bolano Lambunu dan Moutong.
Di sisi lain, kejadian Karhutla tercatat berdampak terhadap 1.125 hektare lahan. Namun, luas lahan yang terbakar tercatat 6,75 hektare. Dampak tersebut tersebar di 28 desa pada tujuh kecamatan.
Rivai mengatakan kondisi cuaca juga menjadi perhatian dalam menentukan langkah penanganan ke depan.
Dalam rapat evaluasi yang digelar BPBD Parimo bersama unsur terkait, BMKG Stasiun Meteorologi Sis Al Jufri Palu menyampaikan kondisi cuaca global dan regional masih kurang mendukung pembentukan awan hujan di wilayah Sulawesi Tengah.
Indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) dan Fire Weather Index (FWI) juga menunjukkan bahan bakar permukaan seperti rumput, daun dan ranting kering masih berada dalam kondisi yang perlu diwaspadai karena mudah terbakar.
Kewaspadaan tersebut mencakup seluruh wilayah kabupaten/kota di Sulawesi Tengah.
“Melihat kondisi di lapangan dan perkembangan cuaca, kebutuhan penanganan masih berjalan. Karena itu, perpanjangan status siaga darurat menjadi salah satu rekomendasi hasil evaluasi,” ujar Rivai.
Rekomendasi tersebut selanjutnya menjadi dasar untuk menjaga distribusi air bersih, pemantauan wilayah rawan, serta kesiapsiagaan personel dan peralatan selama kondisi kekeringan dan Karhutla masih berlangsung.













