LOCUSNEWS, PARIMO – Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, disebut masuk dalam wilayah rawan likuefaksi berdasarkan kajian Badan Geologi Kementerian ESDM. Namun hingga kini, daerah tersebut justru belum memiliki dokumen kajian risiko bencana (KRB) khusus likuefaksi.
Plt Kepala BPBD Parimo, Moh Rivai, mengungkapkan potensi likuefaksi di wilayahnya berada pada level menengah. Ancaman itu bisa muncul jika terjadi gempa kuat dengan kedalaman dangkal.
“Ini jadi perhatian serius kami, karena Parimo belum punya kajian risiko likuefaksi yang komprehensif,” kata Rivai usai lokakarya kebencanaan di Parigi, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, kondisi ini diperparah dengan keberadaan sejumlah sesar aktif di sekitar wilayah Parimo. Di antaranya sesar Sausu, Tokara, hingga Tambarana di Kabupaten Poso, serta pengaruh dari sesar Palu-Koro.
Meski begitu, Rivai menegaskan masyarakat tidak perlu panik. Ia menilai yang terpenting saat ini adalah meningkatkan kesiapsiagaan dan pemahaman terhadap potensi bencana.
“Bukan untuk menakut-nakuti, tapi agar kita lebih siap. Mitigasi harus diperkuat,” ujarnya.
BPBD mencatat, dokumen KRB terbaru yang akan disusun pada 2027 bakal memasukkan ancaman likuefaksi sebagai salah satu fokus utama. Sebelumnya, kajian kebencanaan terakhir dilakukan pada 2019 oleh Bappelitbangda.
Selain likuefaksi, Parimo juga menghadapi ancaman bencana lain seperti banjir bandang, longsor, hingga banjir rob. Kondisi geografis dengan lereng curam dan banyaknya aliran sungai menjadi faktor pemicu.
Rivai menekankan, upaya mitigasi tak cukup hanya dilakukan pemerintah. Perlu keterlibatan semua pihak untuk membangun budaya sadar bencana di masyarakat.
“Mitigasi harus jalan beriringan dengan edukasi dan literasi. Kalau tidak, upaya pengurangan risiko tidak akan maksimal,” tutupnya.













