LOCUSNEWS, PALU – Sebanyak 3.200 hektare tanaman padi di Kecamatan Mepanga, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, terancam gagal panen akibat kekeringan. Tanaman padi mulai mengering setelah pasokan air ke lahan pertanian menyusut.
Kondisi tersebut diungkapkan Bupati Parimo H Erwin Burase saat menghadiri Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla dan Kekeringan yang dipimpin Gubernur Sulteng Anwar Hafid di Kantor Gubernur Sulteng, Senin (31/8/2026).
Erwin mengatakan kekeringan melanda wilayah utara Parimo. Selain mengancam pertanian, kondisi cuaca panas dan minim hujan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Dampaknya sampai ke sektor pertanian. Di Kecamatan Mepanga saja, sebanyak 3.200 hektare tanaman padi masyarakat mulai mengering karena kekurangan pasokan air,” kata Erwin.
Menurut Erwin, kondisi tersebut mulai meresahkan petani. Sejumlah warga bahkan telah menyampaikan langsung keluhan mereka kepada pemerintah daerah.
“Masyarakat sudah merasa resah dan melapor langsung ke kantor bupati,” ujarnya.
Pemkab Parimo kini menyiapkan opsi pembuatan sumur bor untuk membantu memenuhi kebutuhan air lahan pertanian apabila kekeringan terus berlangsung.
“Jalan keluar yang harus segera kita siapkan adalah pembuatan sumur bor untuk mengairi sawah warga jika kondisi ini berlangsung lama,” jelasnya.
Erwin menyebut kondisi kekeringan tersebut terjadi bersamaan dengan ancaman karhutla. Lima kecamatan di wilayah utara Parimo telah ditetapkan dalam status siaga karhutla.
Penanganan kebakaran di wilayah perbukitan dan hutan, kata dia, menjadi tantangan tersendiri karena lokasi sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Pemkab Parimo mengandalkan metode pemadaman manual dengan melibatkan personel di lapangan. Peralatan yang digunakan antara lain tangki semprot, mesin penyedot air atau alkon, serta kolam penampung air berbahan plastik.
“Mobil pemadam kita siapkan untuk memproteksi perumahan warga. Namun jika api sudah naik ke gunung dan masuk hutan, pergerakan pasukan manual dengan tangki semprot dan kantong penampung air adalah kunci tercepat sebelum ada bantuan helikopter,” katanya.
Di tengah ancaman kekeringan di wilayah utara, sejumlah daerah lain di Parimo justru menghadapi bencana berbeda. Kawasan Parigi hingga Kasimbar diguyur hujan deras yang memicu banjir bandang.
Di Kecamatan Kasimbar, banjir bandang terjadi dua kali pada 16 dan 26 Agustus 2026. Banjir dan longsor bahkan sempat memutus Jalan Trans Sulawesi di Desa Paningka sebelum akses kembali dibuka melalui pembangunan jembatan darurat atau Bailey.
Banjir bandang juga menerjang Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara. Sebanyak 73 KK mengungsi dan sejumlah rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Sementara di Desa Toboli Barat, banjir merusak tanggul penampung dan instalasi pipa Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Akibatnya, sekitar 350 KK mengalami krisis air bersih.
Erwin mengatakan kondisi tersebut menunjukkan ancaman bencana di Parimo sangat beragam. Wilayah yang mengalami kekeringan membutuhkan pasokan air, sedangkan daerah lain justru harus menghadapi kelebihan air dan banjir.
“Kasus kebakaran hutan dan lahan ini terjadi selain karena kelalaian juga dipengaruhi cuaca yang sangat panas. Harapannya melalui koordinasi ini kita bisa mencegah meluasnya dampak kerugian,” kata Gubernur Sulteng Anwar Hafid.













