LOCUSNEWS, PARIMO – Plt. Kepala Puskesmas (Kapus) Moutong, Nurlian, mengungkapkan kondisi memprihatinkan yang dialami pihaknya dalam menjalankan pelayanan kesehatan, khususnya rujukan pasien.
Ia mengaku terpaksa meminjam uang, bahkan dari pihak tambang ilegal, demi menutupi biaya operasional ambulans.
Hal itu disampaikan Nurlian dalam rapat kerja Komisi IV DPRD Parigi Moutong (Parimo) bersama Dinas Kesehatan dan sejumlah pemangku kepentingan, Senin (6/4/2026).
“Kami di Kecamatan Moutong terus terang harus meminjam uang di masyarakat, bahkan ke pihak tambang, untuk menalangi biaya rujukan pasien,” kata Nurlian.
Ia menjelaskan, wilayah Moutong menjadi salah satu daerah dengan jarak rujukan terjauh di Parimo, dengan rata-rata 10 hingga 15 pasien dirujuk setiap bulan ke wilayah selatan.
Dalam praktiknya, biaya bahan bakar untuk satu kali rujukan pasien dari Moutong ke Parigi bisa mencapai sekitar Rp800 ribu. Sementara itu, klaim penggantian biaya dari pemerintah belum dibayarkan tepat waktu.
“Dari Januari sampai Maret itu belum dibayarkan. Jadi kami tetap jalan dulu melayani pasien, sementara penggantian bisa 2 sampai 3 bulan baru cair,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, memaksa pihak Puskesmas mencari dana talangan agar pelayanan tidak terhenti. Bahkan, tidak jarang mereka harus berutang kepada pihak luar.
“Kami ini kerja dulu, anggaran belum ada. Jadi terpaksa pinjam, termasuk ke yang punya tambang. Nanti kalau sudah cair, baru kami kembalikan,” ungkapnya.
Nurlian pun berharap pemerintah daerah dapat memberikan solusi konkret, salah satunya melalui penyediaan dana talangan resmi bagi Puskesmas, agar tidak lagi bergantung pada pinjaman eksternal.
Ia memperkirakan kebutuhan dana talangan untuk Puskesmas Moutong bisa mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta, mengingat tingginya intensitas rujukan pasien setiap bulan.
“Harapan kami ada dana talangan, supaya pelayanan tetap jalan tanpa harus meminjam ke luar,” pungkasnya.













